Rabu, 26 September 2012

MY REAL STORY



 Cerita Di Balik Kartu Prestasi

Pagi  itu, Mariska yang biasa di panggil Icha berencana untuk berekreasi ke Dufan bersama Inas, Ruris, Fitria, dan Irda. Mereka berkumpul di sekolah lalu berangkat bersama. Di perjalanan mereka mengobrol dan bercanda. Mereka tidak membawa uang banyak karena mempunyai kartu prestasi Ancol. Kartu tersebut merupakan fasilitas gratis dari PT. Ancol untuk siswa-siswi berprestasi.
Setibanya di Dufan mereka menyiapkan kartunya masing-masing.
“Ayo cepat.......aku sudah tidak sabar!” ucap irda dengan semangat.
“tunggu sebentar daa… kartunya fitri keselip tuh. ” Balas icha.
“sudah ketemu. Hehe ayooo guys kita ke bagian informasi” girang fitri sambil menunjukan kartunya yang sedari tadi keselip di tas.


 Lalu mereka menuju bagian loket untuk menukarkan kartu tersebut dengan tiket masuk ke Dufan.
“Ini mba kartu prestasi Ancolnya. Kami semua ada 5 orang.” Ucap icha dengan memegang 5 kartu prestasi milik teman-temannya
Lalu penjaga loket tersebut mengambil kelima kartu tersebut dengan wajah yang jutek dan tanpa sepatah kata pun.
“Ya ampun, mukanya jutek banget sih!” ucap irda dengan nada sinis.
“Hahaha.....ada ada saja kamu!” timpal ruris, acha, dan inas dengan tawa mereka.

Kemudian penjaga loket memanggil nama mereka satu persatu untuk mamberikan tiketnya.
“Adik, ini kartunya! Saya panggil satu-satu ya. Fitria Andaryani!......... Rurisca Puspadini!.......” panggil penjaga loket ke semuanya. Lalu menyerahkan kartu mereka masing masing.
Ketika nama Mariska Dharmaputri di panggil, penjaga loket tersebut memperhatikan wajah  Mariska dengan cermat. Penjaga loket sangat bingung karena wajah Mariska yang ada di foto kartu prestasi sangatlah berbeda dengan wajah aslinya. Penjaga loket tersebut menanyakan kepada Mariska apakah kartu prestasi itu milik Mariska Dharmaputri atau bukan.
“Mariska Dharmaputri” panggil penjaga loket.
“Saya mbak!” jawab icha sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kartu prestasinya
Lalu Penjaga Loketmelihat wajah Mariska dengan rasa tidak percaya.
 “Ada apa mbak?” ucap icha heran.
“Apakah benar kamu yang bernama Mariska?” Tanya penjaga loket.
“Iya mbak, saya Mariska Dharmaputri. Memangnya ada apa ya mbak?” jawab icha dengan wajah bingung.
“Jangan bohong kamu! Sebenarnya kartu ini punya siapa? Kok mukanya tidak mirip sama sekali dan gambarnya juga tidak terlalu jelas.” Ucap penjaga loket dengan nada tinggi.
“Astagfirullah, benar mbak saya tidak bohong.” Jawab icha dengan muka panic. “Tolong jujur ya dik! Kamu pikir saya anak kecil bisa di tipu begitu saja. Mau saya laporkan polisi?” ancam penjaga loket.
“Benar mbak saya tidak bohong.” Jawab icha lemas.

Mariska pun terus mencoba manjelaskan kepada penjaga loket tersebut. Lalu Mariska mengadu pada teman-temanya.
“Ruris, Inas, bagaimana ini ? Masa kata mbaknya itu bukan foto aku. Aku mau dilaporkan polisi lagi! Gimana dong?” ucap icha.
“Yang bener kamu? Kok bisa sih?” Tanya ruris heran.
“Aku nggak tahu, sepertinya mbaknya marah banget.” Jawab icha sedih.
“Cha, di foto itu rambut kamu masih keriting nggak?” tanya fitria.
“Ehmm, iya.” Jawab icha.
“Hahahaha! Pantas saja si mbaknya ga percaya kalau itu foto kamu, soalnya rambut kamu di ribonding sih! Jadinya tidak mirip kan.“ fitria tertawa.
”Oh iya ya cha, aku juga baru sadar!” timpal ruris.
“Ya ampun, masa cuma gara-gara rambut aku di rebonding, aku bisa nggak  mirip gitu sih? Ucap icha dengan nada sedih.
“Coba sini aku dan Irda yang bilang sama mbaknya.” ruris mencoba membantu.

Ruris berjalan menghampiri loket dan mencoba menjelaskan kepada penjaga loket bahwa foto yang terdapat pada kartu prestasi itu adalah Mariska. Dengan berulang-ulang Ruris menjelaskan tetapi penjaga loket tersebut tetap tidak percaya. Irda pun ikut membantu Ruris agar penjaga loket tersebut mempercayainya. Irda segera mengeluarkan handphone-nya. Ia memperlihatkan foto Mariska sebelum dan sesudah rambutnya diluruskan.
“Maaf mbak, kartu prestasi itu memang punya teman saya, Mariska.” Ucap ruris.
“Kenapa fotonya tidak mirip dan gambarnya juga tidak terlalu jelas?” Tanya penjaga loket.
“Waktu foto itu di ambil, rambutnya masih keriting alias belum di rebonding. Dan fotonya juga di ambil melalui kamera handphone. Mungkin kamera itu resolusinya rendah, jadi gambarnya kurang jelas.” Ruris mencoba menjelaskan.
“Kalau mbak masih belum percaya, coba mbak bandingkan dengan foto sebelum dan sesudah di rebonding ini.” Irda mencoba membantu dengan memperlihatkan foto icha yang ada di handphone miliknya.

Kemudian Penjaga loket itu mengambil handphone tersebut. Lalu membandingkan fotonya “Baik, sekarang saya percaya kepada kalian. Tapi ingat, hal seperti ini jangan di ulangi lagi. Dan saya juga meminta maaf karena telah menuduh kalian”
“Iya mbak. Saya juga minta maaf, karena telah membingungkan mba Terima kasih ya mbak!” jawab icha yang sudah mulai merasa tenang.
“Iya sama-sama.” Balas penjaga loket.

 Setelah penjaga loket percaya bahwa kartu prestasi tersebut milik Mariska. Penjaga tersebut lalu menyerahkan katru milik mariska dan kartu teman-temannya. Mereka pun di izinkan masuk ke arena Dunia Fantasi (Dufan). Akhirnya mereka dapat  bersenang-senang dan menikmati semua wahana permainan yang ada di Dufan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar