Cerita Di Balik Kartu Prestasi
Pagi itu, Mariska yang biasa di panggil Icha berencana untuk berekreasi ke Dufan bersama Inas, Ruris, Fitria, dan Irda. Mereka berkumpul di sekolah
lalu berangkat bersama. Di perjalanan mereka mengobrol dan bercanda. Mereka tidak membawa
uang banyak karena mempunyai kartu prestasi Ancol. Kartu tersebut merupakan fasilitas gratis dari PT. Ancol untuk
siswa-siswi berprestasi.
Setibanya di Dufan mereka menyiapkan kartunya masing-masing.
“Ayo cepat.......aku sudah tidak sabar!” ucap irda dengan semangat.
“tunggu sebentar daa… kartunya fitri keselip tuh. ” Balas icha.
“sudah ketemu. Hehe ayooo guys kita ke bagian informasi” girang fitri
sambil menunjukan kartunya yang sedari tadi keselip di tas.
Lalu mereka menuju bagian loket untuk menukarkan kartu tersebut dengan tiket masuk ke Dufan.
“Ini mba kartu prestasi Ancolnya. Kami semua ada 5 orang.” Ucap icha
dengan memegang 5 kartu prestasi milik teman-temannya
Lalu penjaga loket tersebut mengambil kelima kartu tersebut dengan
wajah yang jutek dan tanpa sepatah kata pun.
“Ya ampun, mukanya jutek banget sih!” ucap irda dengan nada sinis.
“Hahaha.....ada ada saja kamu!” timpal ruris, acha, dan inas dengan
tawa mereka.
Kemudian penjaga loket
memanggil nama mereka satu persatu untuk mamberikan
tiketnya.
“Adik, ini kartunya! Saya panggil satu-satu ya. Fitria
Andaryani!......... Rurisca Puspadini!.......” panggil penjaga loket ke
semuanya. Lalu menyerahkan kartu mereka masing masing.
Ketika nama
Mariska Dharmaputri di panggil, penjaga loket tersebut memperhatikan wajah Mariska dengan cermat. Penjaga loket
sangat bingung karena wajah Mariska yang ada di foto kartu prestasi sangatlah
berbeda dengan wajah aslinya. Penjaga loket tersebut menanyakan kepada
Mariska apakah kartu prestasi itu milik Mariska Dharmaputri atau bukan.
“Mariska Dharmaputri”
panggil penjaga loket.
“Saya mbak!” jawab icha
sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kartu prestasinya
Lalu Penjaga Loketmelihat
wajah Mariska dengan rasa tidak percaya.
“Ada apa mbak?” ucap icha heran.
“Apakah benar kamu yang
bernama Mariska?” Tanya penjaga loket.
“Iya mbak, saya Mariska
Dharmaputri. Memangnya ada apa ya mbak?” jawab icha dengan wajah bingung.
“Jangan bohong kamu!
Sebenarnya kartu ini punya siapa? Kok mukanya tidak mirip sama sekali dan gambarnya
juga tidak terlalu jelas.” Ucap penjaga loket dengan nada tinggi.
“Astagfirullah, benar
mbak saya tidak bohong.” Jawab icha dengan muka panic. “Tolong jujur ya dik!
Kamu pikir saya anak kecil bisa di tipu begitu saja. Mau saya laporkan polisi?”
ancam penjaga loket.
“Benar mbak saya tidak
bohong.” Jawab icha lemas.
Mariska pun terus mencoba manjelaskan kepada penjaga loket tersebut. Lalu Mariska mengadu pada teman-temanya.
“Ruris, Inas, bagaimana
ini ? Masa kata mbaknya itu bukan foto aku. Aku mau dilaporkan polisi lagi!
Gimana dong?” ucap icha.
“Yang bener kamu? Kok
bisa sih?” Tanya ruris heran.
“Aku nggak tahu,
sepertinya mbaknya marah banget.” Jawab icha sedih.
“Cha, di foto itu rambut
kamu masih keriting nggak?” tanya fitria.
“Ehmm, iya.” Jawab icha.
“Hahahaha! Pantas saja si
mbaknya ga percaya kalau itu foto kamu, soalnya rambut kamu di ribonding sih!
Jadinya tidak mirip kan.“ fitria tertawa.
”Oh iya ya cha, aku juga
baru sadar!” timpal ruris.
“Ya ampun, masa cuma
gara-gara rambut aku di rebonding, aku bisa nggak mirip gitu sih? Ucap icha dengan nada sedih.
“Coba sini aku dan Irda
yang bilang sama mbaknya.” ruris mencoba membantu.
Ruris berjalan menghampiri loket dan mencoba menjelaskan kepada penjaga loket bahwa foto yang
terdapat pada kartu prestasi itu adalah Mariska. Dengan berulang-ulang Ruris
menjelaskan tetapi penjaga loket tersebut tetap tidak percaya. Irda pun ikut membantu Ruris agar penjaga loket tersebut mempercayainya.
Irda segera mengeluarkan
handphone-nya. Ia memperlihatkan foto Mariska sebelum dan sesudah rambutnya diluruskan.
“Maaf mbak, kartu
prestasi itu memang punya teman saya, Mariska.” Ucap ruris.
“Kenapa fotonya tidak mirip dan gambarnya juga tidak
terlalu jelas?” Tanya penjaga loket.
“Waktu foto itu di ambil, rambutnya masih keriting
alias belum di rebonding. Dan fotonya juga di ambil melalui kamera handphone. Mungkin
kamera itu resolusinya rendah, jadi gambarnya kurang jelas.” Ruris mencoba
menjelaskan.
“Kalau mbak masih belum percaya, coba mbak bandingkan
dengan foto sebelum dan sesudah di rebonding ini.” Irda mencoba membantu dengan
memperlihatkan foto icha yang ada di handphone miliknya.
Kemudian Penjaga loket itu mengambil handphone
tersebut. Lalu membandingkan fotonya “Baik, sekarang saya percaya kepada
kalian. Tapi ingat, hal seperti ini jangan di ulangi lagi. Dan saya juga
meminta maaf karena telah menuduh kalian”
“Iya mbak. Saya juga minta maaf, karena telah
membingungkan mba Terima kasih ya mbak!” jawab icha yang sudah mulai merasa
tenang.
“Iya sama-sama.” Balas penjaga loket.
Setelah penjaga
loket percaya bahwa kartu prestasi tersebut milik Mariska. Penjaga tersebut
lalu menyerahkan katru milik mariska dan kartu teman-temannya. Mereka pun di izinkan masuk ke arena Dunia Fantasi (Dufan). Akhirnya mereka dapat bersenang-senang dan menikmati semua wahana permainan yang ada di
Dufan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar